Lebaran Idul Fitri 1429 H

Pagi-pagi kami sekeluarga bersiap-siap melaksanakan sholat Id, usai sholat subuh, anak-anak dtak mandiin, ibunya menyiapkan pirantinya, setelah itu sedikit sarapan (yah… biar beda dengan hari-hari kemaren yang tidak boleh makan usai sholat subuh).

Anak-anak pakai baju “riyoyo” koko, Yoso pakai baju warna hijau muda, semo pakai yang warna kuning dan Adin pakai warna krem. “pak-pak saiki riyoyo ye pak?” tanya si kembar dengan penuh riang, “ya” jawabku.

Usai persiapan dan sinar matahari telah sampai di ujung genting rumah kami berangakat ke masjid Muhammad Abdillah Bursyid  dekat rumah. Sampai di Masjid si-Kembar langsung cari tempat sendiri, Ibu,  adik Adin (Ahmad Saladin) dan Titi (nenek) juga ambil lokasi disamping kiri belakang barisan orang laki-laki. Aku sementara masih menunggu Khotib (Mas Awang) dan beberapa jamaah yang belum hadir.

cah kembar di shof belakang

cah kembar di shof belakang

Alhamdulillah, saat sholat, cah kembar tidak neko-neko (main sendiri karena seperti kalau sholat dirumah biasanya saat jamaah saling menjahili saudaranya).  Si-mbuntil Adin juga tidak ngompol (wah berabe kacau kalu saat orang sedang sholat trus…best…..ngompol).

Usai sholat terus mendengarkan khotbah, dalam materi khotbahnya Mas Awang menyampaikan hakekat zakat, dan beliau juga menegaskan bahwa sebenarnya Allah tidak akan menurunkan hujan kepada manusia (yang tidak membayar Zakat) kecuali hanya karena kasihan kepada hewan-hewan melata. Berarti sebenarnya kita ini sangat berhutang budi terhadap hewan-hewan melata tersebut.

Seperti tradisi sebelumnya, setelah khotib turun dari mimbar, semua jama’ah bersalam-salaman, Taqobalallahu minna wamingkum…. semoga kebaikan akan senantiasa menyertai kita.

Acara selanjutnya adalah………

Ke rumah mBah. Sampai di rumah mbah, orang-orang sudah pada ramai, ada Pak Mul, Wulik Wi, Busiti yang dari Surabaya juga sudah datang sehari sebelumnya bersama putri, Dik Enik. Dik Okok, Santi dan Ing juga ada. Dian, Hermanto dan Putranya, Bima pake seragam batik, Kelik tambah gemuk saja, dia baru dapat job baru “Dept Colector” di Blitar, tapi kelik sendirian karena memang belum nikah, makanya “Lik cepat nikah, biar tambah seru, duit banyak tapi sendirian  buat apa……..?” bilangku.

Susunan acara: 1) Sungkeman: semua baris antri sesuai urutan Herarki (he-he-he, kayak keraton saja). Embah duduk di ruang tengah, Titi ( Ibuk-ku) yang tertua didepan sendiri, aku dan anak istriku, disusul Bu Siti dan Dik Enik, Pakmul dan Bulik Wi, beserta anakdan cucunya diurutan selanjutnya.

si-Embah

si-Embah

Usai sungkem dengan embah, semua sungkep dengan orang tua masing-masing, sempat mbrebes juga saat aku minta maaf ke Ibu dan anak istriku, kebayang saat setiap hari sering aku tinggal kerja hingga larut malam, mereka sering melewatkan sore yang cerah tanpa suami dan bapak mereaka. Juga Ibu, saat aku sering keluapaan membawakan atau mendapatkan barang pesanan ibu. Sedang ketiga saudaraku yang lain masih belum datang, karena masih ada acara di tempat mereka masing-masing. Dan MAs Amak juga baru datang dari Jerman, usai merampungkan studi S3 bersama istrinya, akhirnya mereka berdua kini jadi seperti bakul Es, maksudnya, yang laki S3 yang putri juga S3, kan jadi Es-Es-an. Sebenarnya aku juga pingin seperti mereka, semoga bisa. Amiin.

Balik lagi ke-cerita: Selanjutnya adalah…………maem, eh makan, …………………

acara paling seru, semuanya yang tadi berjejal di ruang tengah (ndalem) kini mak gruduk pindah ke dapur (pawon, bukan pawonan) umyek-yek……., bukan berebut, tetapi semuanya ngumpul, sambil makan sambil juga bercerita, ada yang certia anaknya, ada yang cerita kerjaannya, ada pula yang cerita selama perjalanan mudaik etc.

Setelah semua Kenyang, tapi tidak kekenyangan, akhirnya acar serunya anak-anak, bagi-bagi sangu, semua saling nyangoni, uangnya pada masih licin-licin (wadu……..susahnya cari tukar uang, sampek antri-antri di BI), wah, ini yang anaknya banyak dapat rejeki banyak nich (he-he-he anak-ku 3 yang lain masih sat-satu ada pula yang dua). tapi tetap saja yang pegang bendahara “Ibuk Ina” (istriku) bisa ngutang ga ya……..he-he-he.

bagi-bagi uang

bagi-bagi uang

Acara berlanjut dengan berpamitan semunya, jalur selanjunya adalah kerumah mbahde (embah Gede, alias kaknya Bapak-ku).

Sampai di rumah mbahde masih sepi anak dan cucunya belum pada datang, anak-anak gembrudug masuk menyerbu meja yang telah penuh dengan jajanan khas “riyoyo”. Mbah-De senang sekali saat cah tiga ngruntel-ngamplok.

Setelah selesei dari mbah-de kita pulang untuk persiapan menerima tamu para tetangga, setelah menata beberapa jajanan di meja, kita buka pintu dan duduk menunggu tamu…….

bersambung…………….

Ditulis dalam Keluarga. Tag: . Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: